Tuesday, October 6, 2009

F.X. WIDAYANTO

Subject: Entrepreneurship Project
Lecturer: Rini Sanjoto, MBA
Class: Marketing 11 – 4C


F.X.Widayanto memulai usaha/bisnis keramik ini pada tahun 1983 bersama dengan sepupunya ayng juga memberikan modal. Awalnya ia bekerja dirumahnya yang merangkap sebagai galeri sekaligus studio namun sekarang ini outlet mas Yanto sudah ada di daerah Panglima Polim dan di daerah Jakarta Pusat. Dahulu tempatnya di daerah Setia Budi di issuekan akan digusur, sehingga mas Yanto membeli lahan baru di daerah Depok. Namun karena adanya krisis moneter pemerintah tidak jadi membeli daerah tersebut, akhirnya lahan di Depok tetap dibangun. Dengan berbekal mimpi dan prinsip bahwa mimpi itu harus diperjuangkan maka dimulailah usaha keramik Widayanto.

Mas Yanto sejak dulu sudah hobby menggambar dan akhirnya ia berkuliah di ITB dan mengambil jurusan keramik. Pada jaman itu peminat jurusan tersebut sangat sedikit, mungkin hal itu disebabkan karena proses pembuatan keramik yang cukup sulit, dari mengolah, membentuk sampai pada akhirnya keramik itu jadi. Ia pun sempat dilarang oleh orang tuanya yang menganggap bahwa jurusan tersebut kurang menjanjikan, hal ini disebabkan karena banyak orang yang masih belum menyadari prospek keramik di masa yang akan datang. Tetapi pada akhirnya mas Yanto tetap pada keputusannya tersebut dan dengan ketekunannya ia bisa meraih kesuksesan seperti sekarang ini. Inspirasi untuk karya seninya didapatkan dari kesukaannya pada mitologi, binatang dan tanaman. Hal ini dapat terlihat dari galeri mas Yanto di Depok yang sangat rimbun bernuansa alam.

Mas Yanto pernah mengalami masa-masa sulit dalam menjalankan bisnis ini karena permasalahan management. Ketika ia sudah hampir mreasa putus asa, ada perusahaan Jepang yang ingin bekerja sama dengan mas Yanto sekaligus mengurusi managementnya. Dalam setiap bisnis, competitor adalah hal yang tidak dapat dihindari. Dalam menangani masalah tersebut mas Yanto selalu mengambil langkah lebih depan dari competitor dan bekerja lebih extra. Mas Yanto berpendapat bahwa membuat keramik bukan hanya sekedar produk, tetapi bagaimana mempresentasikannya.

Produk keramik buatan mas Yanto berbeda satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan karena semua keramik tersebut dihias dengan tangan sehingga tidak ada produk yang sama. Sekarang ini pun mas Yanto sudah mulai mencari dan mendidik calon penerus usahanya ini di masa mendatang. Namun seorang Widayanto memiliki pandangan tersendiri mengenai penerusnya. Menurutnya, penerus tidaklah harus seorang yang memiliki hubungan darah daging misalnya anak hasil perkawinan ataupun saudara, karena belum tentu mereka memiliki bakat dan minat yang sama dengan pendahulunya. Tetapi di lain pihak, Widayanto juga sangat menyadari bahwa apa yang telah dibangunnya tidak bisa kandas begitu saja, karenanya meskipun sulit Mas Yanto tetap berusaha menemukan penerus yang tepat bagi usahanya di masa depan.

Selain itu, Widayanto memiliki perbedaan tersendiri dari para kompetitornya. Ia sangat memperhatikan estetika dan keasrian dari tempat kerjanya agar setiap pengunjung dapat menikmati kunjungannya bukan hanya karena dapat ’bermain’ dengan keramiknya namun juga karena tempat yang mendukung. Hal itu sudah terlihat pada galeri studionya di Depok. Tetapi menurutnya hal tersebut belum terrealisasi pada pabrik keramiknya di Balaraja.

Widayanto juga memberikan kesempatan pada setiap customernya untuk dapat melihat dan mengetahui proses pembuatan keramiknya. Hal tersebut merupakan langkah yang sangat baik. Namun menurut kami hal tersebut mengundang resiko yang cukup besar seperti plagiat ataupun sabotase dari pihak kompetitor. Maka kontrol dan management yang baik mutlak dibutuhkan bila Mas Yanto tetap ingin menjaga kekhasan dan orisinalitas dari karyanya. Ada baiknya juga bila Mas Yanto tetap menjaga batasa-batasan tertentu dalam setiap keterbukaannya baik pada customernya maupun anak buahnya.

No comments:

Post a Comment